Tampilkan postingan dengan label Teknik Budidaya Tan. Holtikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Budidaya Tan. Holtikultura. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Budidaya Tanaman Tomat

1. Syarat Tumbuh

  • Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
  • Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 - 6
  • Curah hujan 750 - 1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian
  • Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman

2. Pola Tanam

  • Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan
  • Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu

3. Penyiapan Lahan

  • Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau dan kentang
  • Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu
  • Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
  • Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal
  • Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air
  • Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah
  • Atau jika pakai Pupuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan

4. Pemilihan Bibit

  • Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
  • Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
  • Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)

e. Pemupukan

  • Dosis pupuk per hektar secara umum adalah: N 90 - 120 kg, P2O5 60 kg, K2O 50 kg, atau berdasarkan teknologi Bagan Warna Daun (BWG) dan perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)
  • Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau pada saat tanam, dengan dosis 1/3 bagian N, P2O5dan K2O diberikan sekaligus
  • Pupuk susulan pertama diberikan pada usia tanaman 2 minggu dengan dosis 1/3 bagian N
  • Pupuk susulan kedua diberikan pada usia tanaman 2 minggu dengan dosis 1/3 bagian N

f. Pengairan

  • Sejak tanam hingga satu minggu kemudian, air perlu tersedia cukup untuk mendukung pertumbuhan akar tanaman dan anakan baru
  • Menjelang pemupukan dilakukan pengeriangan sampai keadaan macak-macak
  • Fase primordia sampai fase bunting, lahan digenangi setinggi 5 cm untuk menekan pertumbuhan anakan baru
  • Selama fase bunting sampai fase berbunga, secara priodik lahan diairi dan dikeringkan
  • Pada fase pengisian biji, ketinggian air di pertahankan sekitar 3 cm. Setelah fase pengisian biji, lahan diairi dan dikeringkan secara bergantian
  • Seminggu menjelang panen, lahan mulai dikeringkan agar proses pematangan biji lebih cepat dan lahan tidak becek saat panen

g. Penyiangan

  • Penyiangan dilakukan paling sedikit 2 kali dengan menggunakan landak atau gasruk
  • Penyiangan dilakukan menjelang pemupukan susulan pertama dan kedua

h. Pengendalian OPT

  • Hama utama Tomat: Tikus Sawah, Wereng Coklat, Penggerek Batang Tomat dan Keong Mas
  • Penakit utama Tomat: Tungro dan Hawar Daun Bakteri
  • Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara hayati, biopestisida, fisik dan mekanis serta pestisida kimia sesuai dengan anjuran

i. Panen

  • Waktu panen yang tepat adalah pada saat biji masak fisiologis, yaitu sekitar 90 - 95 % malai telah menguning
  • Gunakan alat potong (sabit bergerigi) yang tajam untuk memperkecil tingkat kerontokan gabah saat panen
  • Potong jerami sekitar 20- 25 cm diatas permukaan tanah, kemudian diletakkan dan ditumpukkan diatas alas terpal plastik atau goni bekas
  • Tomat yang sudah dipotong secepatnya dirontok menggunakan banting baertirai atau Power Tresher

Rabu, 23 Oktober 2013

Budidaya Kacang Panjang

Kacang panjang merupakan tumbuhan yang dijadikan sayur atau lalapan. Ia tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Bagian yang dijadikan sayur atau lalapan adalah buah yang masih muda dan serat-seratnya masih lunak.



a. Syarat Tumbuh

  • Ketinggian tempat antara 0 - 1500 m dpl
  • Suhu udara 18 - 32oC, optimum 25oC
  • Curah hujan 600 - 2000 mm/tahun
  • Tekstur tanah liat berpasir
  • pH tanah 5.5 - 6.5

b. Persiapan benih

  • Benih unggul bermutu
  • Kebutuhan benih 15 - 20 kg/ ha

c. Pengolahan Tanah

  • Tanah dicangkul sedalam 20 - 30 cm dan dibiarkan selama 3 - 4 hari
  • Kapur diberikan apabila pH < 5 saat pengolahan tanah
  • Pembuatan bedengan dengan ukuran: lebar 80 - 110 cm. Diantara bedengan dibuat saluran drainase dengan lebar 30 cm dan panjang sesuai keadaan lahan
  • Di atas bedengan ditabur pupuk kandang diaduk dengan tanah
  • Bedangan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak yang sudah diberi lubang tanam dengan jarak yang dikehendaki

d. Penanaman

  • Penanaman dengan cara ditugal sedalam 4 - 5 cm, jarak antara lubang tanam 25 - 30 cm, jarak antara barisan 60 - 70 cm
  • Setiap lubang tanam dimasukkan 2 butir benih
  • Pemasangan turus :
  • - Turus dibuat dengan batang kayu atau belahan bambu dengan ukuran panjang 150 - 200 cm dan lebar 2 - 3 cm
    - Pemasangan turus pada saat tanaman berumur 2 minggu atau tinggi tanaman mencapai 25 cm

e. Pemeliharaan

  • Penyulaman dilakukan paling lambat seminggu setelah tanam dengan benih yang telah disiapkan sebelumnya dalam polybag
  • Penyiraman denga gembor. Untuk lahan yang cukup luas dilakukan dengan mengalirkan air pada saluran di sekitar bedengan
  • Penyiangan
  • - Dilakukan dua kali yaitu setelah tanaman berumur 3 minggu dan 6 minggu
    - Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pendangiran
  • Pemupukan
  • - Pupuk organik diberikan sebagai pupuk dasar. Pupuk Urea, SP-36 dan KCL diberikan sebagai pupuk susulan dengan dosis per hektar 100 kg Urea, 200 kg SP-36 dan 100 kg KCL
    - Urea diberikan setengah dosis pada saat tanam dan setengahnya lagi pada saat tanaman berumur 3 minggu, sedangkan SP-36 dan KCL diberikan seluruhnya pada saat tanam
    - Pupuk dimasukkan kedalam lubang atau larikan sejauh 5 - 7 cmdari barisan benih kemudian ditutup dengan tanah
    - Pemupukan juga dilakukan melalui daun (sebagai pelengkap dan menghindari larutnya unsur hara sebelum diserap akar)

f. Pemangkasan

  • Dilakukan apabila tanaman terlalu subur atau terlalu banyak cabang yang kurang produktif
  • Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong pucuk sekitar 2 – 3 ruas untuk merangsang terbentuknya cabang baru yang produktif

g. OPT dan Pengendalian

  • Hama: Kutu Kebul, Ulat Jengkal, Lalat Kacang, Tungau Merah, Penggerek Polong, Kepik Polong, Nematoda
  • Penyakit : Layu Sklerotium, Karat Daun, Layu Fusarium, Bercak Daun, Penyakit Sapu, Mozaik, Antraknosa
  • Pengendalian :
  • - Lakukan pengamatan OPTsecara intensif dan adakan tindakan sedini mungkin jika ditemukan ada gejala serangan
    - Jaga kebersihan kebun untuk mengantisipasi berkembang biaknya OPT
    - Musnahkan bagian tanaman yang sudah terserang OPT
    - Pengendalian secara biologi dilakukan dengan musuh alami
    - Penyemprotan dengan insektisida merupakan langkah terakhir

h. Panen dan pasca panen

  • Ciri-ciri polong muda cukup panen
  • - Panen polong muda dimulai pada umur tanaman 45 hari (tergantung varietas, musim dan ketinggian tempat dari permukaan laut)
    - Polong muda dipanen bila sudah berisi penuh, berwarna hijau merata dan mudah dipatahkan
  • Cara panen
  • - Panen dengan cara mumutar bagian pangkal polong agar terlepas seluruhnya
    - Panen bisa dilakukan sebanyak 5 - 15 kali pemetikan dalam satu kali musim tanam (interval pemetikan 2 - 3 hari)
    - Rata-rata produksi 9 - 15 ton/ha/musim tanam
  • Pasca panen
  • - Sortasi: untuk mengelompokkan polong muda pada beberapa tingkatan kualitas dan keseragaman
    - Pengemasan dalam bentuk sederhana berupa ikatan sesuai permintaan pasar
    - Setelah diikat langsung dibawa ke pasar (konsumen)

Rabu, 09 Oktober 2013

BUDIDAYA CABAI MERAH

Cabai atau cabai merah atau chili (bahasa Ambon) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.


a. Syarat Tumbuh

  • Ketinggian tempat antara 0 - 1200 m dpl
  • Tanah berstruktur remah atau gembur dan kaya bahan organic
  • pH tanah 6.0 - 7.0

b. Varietas yang dianjurkan

  • Cabai besar: Jatibala, Prembun. LC, Serdang, Tit Super dan jenis hibrida Hot Beauty
  • Cabai rawit: Cengek Domba dan Ceplik

c. Pembenuhan dan pembibitan

  • Pembenihan
  • - Benih berasal dari buah yang tua dengan bentuk normal, dan bebas hama penyakit
    - Buah cabai dibelah memanjang, dikeluarkan bijinya, jemur hingga kering
    - Jika ingin disimpan lama, sebaikknya biarkan buah cabai tetap utuh dan jemur hingga kering
  • Pembibitan/penyemaian
  • - Untuk mempercepat pertumbuhan, sebelum disemai benih direndam dalam larutan Kalium Hipoklorit 10% sekitar 10 menit, atau direndam dalam air hangat (suhu 50oC)selama semalam
    - Kebutuhan benih cabai per hektar antara 200 - 500 g
    - Buat bedengan menghadap ketimur, lalu beri atap dari daun kelapa, daun pisang, atau alang-alang
    - Olah tanah bedangan hingga gembur
    - Taburkan pupuk kandang dan campurkan tanah dengan spayer
    - Pada umur 30 - 40 hari setelah semai, bibt siap ditanam dilahan

d. Pengolahan Lahan

  • Bersihkan lahan dari gulma, lalu cangkul atau bajak agar gembur
  • Jika pH tanah < 5.5, tambahkan kapur dengan dosis 1 - 1.5 ton/ha
  • Dibuat bedengan ukuran lebar 120 cm, panjang sesuai keadaan, tinggi bedengan 25 cm atau guludan. Jarak antara bedengan/guludan 60 - 70 cm

e. Penanaman

  • Waktu
  • - Dilahan sawah: akhir musim hujan
    - Di lahan tegalan: musim hujan
  • Sistem penanaman: sistem baris tunggal pada guludan atau system ganda pada bedengan
  • Jarak tanam ganda pada bedengan ( 60 cm - 70 cm ) x ( 30 cm - 50 cm ), jarak tanam tunggal untuk sistem guludan 30 cm - 40 cm
  • Masukkan bibit ke lubang tanam, lalu tutup dengan tanah sekitar tanaman dan padatkan dengan tangan

f. Pemeliharaan

  • Penyulaman dilakukan sesegera mungkin agar pertumbuhan tanaman susulan tidak berbeda jauh
  • Penyiangan dilakukan dengan menggunakan kored atau herbisida selektif
  • Pengairan dilakukan awal penanaman terutama pada saat air huan tidak mencukupi kebutuhan
  • Pemupukan :
  • - Pupuk kandang 20 ton/ ha
    - Dosis pupuk: Nitrogen: 80 - 100 kg/ ha, Phosphat 60 - 75 kg/ha dan Kalium 45 - 60 kg/ha
    - Pupuk Nitrogen diberikan tiga kali, 1/3 bagian diawal tanam, 1/3 bagian diberikan pada usia 30 HST, 1/3 berikutnya diberikan pada 45 HST. Phosphat dan Kalium diberikan sekaligus pada saat tanam

g. Pengendalian OPT

  • Hama : kutu daun
  • Penyakit : disebabkan oleh cendawan dan bakteri
  • Pengendalian, Menerapkan prinsip PHT (Rotasi tanaman, Pengamatan tanaman, Penggunaan Pestisida, Eradikasi, Sanitasi Kebun dan Lingkungan).

h. Panen dan pasca panen

  • Panen didataran rendah dilakukan pada umur 70 - 75 hari, sedang didataran tinggi dilakukan pada umur 120 - 150 hari
  • Panen berikutnya setiap 3 - 4 hari sampai umur 6 - 7 bulan
  • Panen dilakukan dengan cara memetik buah yang sudah tua (kemerahan)
  • Lalukan sortasi buah, kemudian diangin-anginkan ditempat yang terbuka