Senin, 30 September 2013

BOKASHI

Pembuatan Bokashi
Bahan pembuatan bokashi (jerami, rumput, pupuk hijau, pupuk kandangdan sebagainya) dapat berupa bahan yang sudah kering ataupun masih basah (segar). Ada beberapa jenis bokashi, yaitu :

1. Bokashi Jerami
Bahan yang digunakan:
  • Jerami sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah dipotong-potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm.
  • Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg
  • EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml)
  • Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya
Cara pembuatan :
  • Pertama-tama dibuat larutan dari EM4, molasses/gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml :1 liter air.
  • Bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
  • Selanjutnya bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).
  • Adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50 C. Jika suhu bahan melebihi 50 o C, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali.
  • Setelah empat hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan ditumbuhi oleh jamur yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal
  • Bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. Jika bokashi ingin disimpan terlebih dahulu, maka bokashi harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara mengangin-anginkan di atas lantai hingga kering. Setelah kering bokashi dapat dikemas di dalam kantung plastik
Penggunaan :
  • Bokashi jerami sangat baik digunakan untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah.
2. Bokashi Pupuk Kandang
Bahan yang digunakan :
  • Pupuk kandang sebanyak 15 kg.
  • Sekam sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg.
  • Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
  • EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan :
  • Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang.
Penggunaan:
  • Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami. Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah pada perbandingan 1:1.
3. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Arang
Bahan yang digunakan :
  • Pupuk kandang sebanyak 10 kg, dedak sebanyak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg
  • Molases\gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
  • EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan :
  • Cara pembuatan bokashi pupuk kandang ditambah arang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan kotoran hewan (pupuk kandang) dan arang sekam\arang serbuk gergaji.
4. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Tanah
Bahan yang digunakan :
  • Pupuk kandang sebanyak 5 kg dan tanah sebanyak 10 kg.
  • Arang sekam\arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg dan dedak halus sebanyak 5 kg.
  • Molases/gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
  • EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan :
  • Cara pembuatan bokashi pupuk kandang tanah mirip dengan pembuatan bokashi pupuk kandang-arang, hanya perlu ditambahkan tanah.
Penggunaan:
  • Bokashi pupuk kandang-tanah baik untuk digunakan didalam pembibitan tanaman. Dalam hal ini bokasi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah pada perbandinagan 1:1

Bioteknologi Jerami

Ketersediaan bahan pakan hijauan ini sangat dipengaruhi oleh faktor musim, di mana pada musim penghujan tersedia dalam jumlah banyak dan berlimpah sedangkan pada musim kemarau ketersediaan sangat terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut biasanya peternak memberi pakan sisa-sisa pertanian seperti jerami.

Hasil pemanenan padi berupa jerami padi tidak banyak dimakan ternak, biasanya ditumpuk dan dibiarkan mengering. Kalaupun diberikan pada ternak hanya sedikit yang dimakan karena kurang disukai ternak sehingga setelah pemanenan padi, jerami ditumpuk dan dibiarkan mengering. Jerami padi belum dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat peternak untuk ternak ruminansianya.

Kendala utama dari pemanfaatan jerami padi sebagai salah satu bahan pakan ternak adalah kandungan serat kasar tinggi dan protein serta kecernaan yang rendah. Penggunaan jerami secara langsung atau sebagai pakan tunggal tidak dapat memenuhi pasokan nutrisi yang dibutuhkan ternak.

Agar limbah pertanian berupa jerami padi dapat digunakan secara luas pada ternak ruminansia dalam mengatasi kendala-kendala penyediaan bahan pakan ternak pada musim kemarau dan pemanfaatan limbah yang berlimpah maka perlu dilakukan suatu upaya peningkatan daya guna dari limbah tersebut melalui suatu teknologi pakan yang tepat guna. Salah satu teknologi pakan tepat guna yang dilakukan dalam penggolahan bahan pakan ternak adalah bioteknologi melalui fermentasi.

Untuk file fullnya unduh aja di sini gannnnnn !!!!!!!!

Evaluasi Terhadap Petani Peserta Program Penyuluhan Pertanian SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu)

Penyuluhan dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan keterampilan) di kalangan masyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan perubahan-perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan atau keuntungan dan perbaikan kesejahteraan keluarga atau masyarakat yang ingin dicapai melalui pembangunan pertanian. 

Pentingnya penyuluhan pembangunan juga diawali oleh kesadaran akan adanya kebutuhan manusia untuk mengembangkan dirinya agar lebih mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Karena itu, kegiatan penyuluhan pembangunan terus menerus dikembangkan dalam rangka menggerakkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan agar mereka memiliki kemampuan menolong dirinya sendiri untuk mencapai tujuan perbaikan mutu hidup dan kesejahteraan yang dicita-citakan.

Indonesia juga mengalami dampak negatif karena penggunaan pestisida yang sangat berlebihan dalam program intensifikasi massal, mendorong para pakarnya untuk mengkaji ulang dan mencari alternatif jawaban yang lebih baik dalam mengatasi masalah-masalah hama padi tanaman. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) diartikan sebagai suatu strategi pengendalian hama dengan memadukan berbagai taktik pengendalian yang terpilih dan sesuai dengan memperhatikan segi ekonomis, sosial dan ekologi yang menitikberatkan faktor mortalitas alam sebagai populasi hama tetap berada pada tingkat yang secara ekonomik tidak merugikan.

Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu terbukti berhasil dalam menurunkan biaya pestisida, meningkatkan hasil panen dan membuat pertanian lebih berkelanjutan sehingga Departemen Pertanian RI sekarang menerapkan pendekatan serupa pada berbagai masalah lain. Keberhasilan hanya akan tercapai melalui pelatihan kembali seluruh staf yang sebelumnya menggunakan pendekatan dari atas ke bawah.

Untuk mengunduh filenya sedot aja di sini gan

Aplikasi Jerami Padi Untuk Perbaikan Sifat Tanah Dan Produksi Padi Sawah

Produktivitas beberapa komoditas pangan dan hortikultura misalnya tanaman padi mengalami pelandaian beberapa tahun terakhir ini. Akibatnya Indonesia kini menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Usaha untuk meningkatkan produksi pangan terutama beras banyak dihadapkan pada berbagai kendala, antara lain : semakin menciutnya lahan pertanian subur, penurunan produktivitas (leveling off) di sentra-sentra produksi.

Banyak faktor yang memicu terjadinya pelandaian produksi di daerah sentra. Salah satunya adalah karena adanya upaya meningkatkan produktivitas tanaman dengan menggalakkan penggunaan pupuk an-organik. Selama hampir empat dekade petani telah menggunakan pupuk an-organik (Urea, TSP, dan KCl) yang melampaui dosis anjuran. Adanya peningkatan pemakaian pupuk kimia telah menyebabkan terjadinya pencemaran lingkunga.

Penambahan pupuk organik melalui pendekatan pengelolaan hara secara terpadu (Integreted Plant Nutrient Management) dengan mengkombinasikan pemberian pupuk kimia dan pupuk organik. Di Pulau Jawa pengelolaan hara ini sudah dilaksanakan melalui pemanfaatan limbah jerami padi untuk mensuplai kebutuhan K pada lahan sawah.

Untuk artikel fullnya download aja di sini